Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, August 17, 2020

Peran Pemuda Dalam Mengisi Kemerdekaan

Sumber: Kompasiana. com

Oleh: Budi Haryanto

Tanggal 17 agustus merupakan hari dimana bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 75 Th di tahun ini. Pemuda dan pemudi sebagai agent of chance penerus bangsa bagaimana  bisa mengisi dan merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan negara indonesia.

 Yang mana sebuah kemerdekaan perjuangan ini diperoleh melalui hasil keringat tenaga darah dan air mata. Sebuah proses perjalanan yang panjang dan perjuangan tersebut tidak terlepas dari hasil kerja keras serta doa  dari para pahlawan dalam cita-cita mulianya merebut  kemerdekaan dari para penjajah.

Dengan dimaknai secara mendalam dan dilanjutkan oleh para pemuda dan pemudi sebagai  generasi penerus bangsa sebagai agent of change dan sudah menjadi kewajiban Pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal sifatnya positif.

Sehingga tak lup pula kita akan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan  dengan susah payah melalui perjuangan dalam mempertaruhkan jiwa dan raga. Pemuda harus mengaplikasikan serta mereflesikan kembali nilai-nilai kemerdekaan dengan cara banyak mempelajari serta sadar akan betapa pentingnya sebuah proses dalam pendidikan.

Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur yang utama dalam keberhasilan serta besarnya suatu negeri. Dengan adanya pendidikan pemuda dan pemudi mendapatkan wawasan serta pengetahuan yang sangatlah berpotensi melahirkan sebuah karya-karya nyata dan teknologi serta inovasi yang sangat berperan penting di era saat ini.

Tak lupa pula menumbuhkan rasa semangat juang  45 yang menggelora demi memajukan bangsa dan negaranya. Indonesia ialah suatu negara yang kaya akan berbagam macam suku, bangsa, budaya serta bahasa. Hingga Keanekaragaman ini lah yang melahirkan rasa cinta akan sesama menjadi  sebuah persatuan adanya.

Sunday, August 16, 2020

Refleksi Hari Kemerdekaan di Tengah Pandemi

Sumber: Suara. com

Oleh : Muh.Taufiqul Hakim (Pascasarjana UMI)

Kita semua tau pandemi ini sudah berjalan selama kurang lebih 5 bulan terhitung dari akhir bulan april 2020,  banyak dari kita rakyat indonesia yang sangat terdampak akibat pandemi yang sangat membatasi diri keluar dari rumah untuk beraktifitas seperti sedia kala.

Tak jarang ada yang terpaksa di rumahkan bahkan di PHK karna perusahaan tak sanggup lagi membayar gaji atau upah dari karwannya.

Di tengah pandemi ini, pasti akan ada sedikit yang berbeda dalam merayakan Hari Ulang Tahun Ke-75 Republik Indonesia.

Peringatan Hari Ulang Tahun RI yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus selalu memberikan kesan tersendiri.
Karna di tanggal tersebut masyarakat Indonesia selalu mengisi hari kemerdekaan dengan membuat berbagai kegiatan, seperti upacara bendera & mengadakan perlombaan untuk anak-anak hingga orang dewasa seperti lomba balap karung, makan kerupuk, hingga panjat pinang tentunya

Namun sayang, hampir kemungkinan perlombaan tersebut berpotensi ditiadakan. Karna adanya protokol kesehatan yang mengharuskan kita untuk menjaga jarak & tidak berkerumun.

Oleh karna itu masyarakat dihimbau agar dapat melaksanakan lomba secara virtual di tengah masa pandemi ini. Atau bisa menyaksikan perlombaan tradisional 17-an secara virtual.

Saya berharap semoga dengan cara ini tidak melunturkan semangat & euforia hari kemerdekaan itu sendiri karna pada hakikatnya kita telah merdeka dari penjajah berkat pahlawan kita terdahulu, Dirgahayu Indonesia!!!

Friday, August 14, 2020

75 Tahun Bonus Demografi dan Transformasi Zaman

Sumber: NU Online
Oleh : Rival Aqma Rianda (Wasekjend Internal DPP GMNI)


1945 Tahun yang lalu atau kini yang berusia 75 tahun hampir separuh sudah perjalanan Indonesia Merdeka dalam menuju satu abad nanti. Angka yang begitu tidak singkat bukan semata-mata tanpa adanya dari dedikasi perjuangan para pahlawan pendiri bangsa terlebih dahulunya memperjuangankan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia atas nama kedaualatan negara saat itu. Melainkan atas nama jati diri, kehormatan di hadapan penjajah sebagai bangsa besar dan bukan bangsa tempe hal itu seperti yang di sampaikan oleh Soekarno pada saat Pidato Kemerdekaan 17 Agustus 1963.


 "Kita bangsa besar, kita bukan "bangsa tempe", kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak. Tradisi Bangsa lndonesia bukan "tradisi tempe". 

Kita dizaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.

Hal ini menandai bahwa salah satu bukti obor kesetiaan rakyat terhadap Bangsanya sendiri sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air, rakyat, bangsa dan negara. Jikalau Soekarno cintanya abadi terhadap Indonesia di ruang diplomasi geopolitik, demikian ketulusan dan kejujuran hatta mencintai Indonesia dan Jenderal Sudirman sebagai panglima perang gerliya kala itu. Satu-kesatuan terus di menangkan dalam masa melawan penjajah, menghilangkan kooptasi identitas suku, agama, dan simbolisasi fanatisme.

Kini kehadiran generasi menjadi penting dalam proses pilar pembangunan manusia yang unggul dan maju dalam masa untuk memenangkan zaman. Instrumen gerakan anak-anak muda akan menjadi jawaban untuk kita semua di tahun 2030-2040 akan datang yang dimana Indonesia akan menghadapi Bonus Demografi. Empat pilar Pembangunan Indonesia pada tahun 2045 nanti yakni pembangunan manusia dan penguasaan teknologi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta ketahanan nasional.

75 Tahun hari ini Indonesia Merdeka selalu kita peringati sebagai buah dari warisan para pahlawan dan leluhur kita, meskipun setiap keadaan zaman selalu dinamis dalam merayakan kemerdekaan, hari ini kita merayakan kemerdekaan tersebut di tengah-tengah keadaan yang kurang baik bagi Indonesia yang terancam Covid-19. Namun tidak sedikit menyurutkan spirit dan optimisme kita sebagai bangsa yang besar dan yang gandrung akan terhadap cinta tanah air.

Kini kesempatan dan tantangan terus hadir di hadapan generasi muda, selain teknologi yang terus mengupgrade kemajuannya yang mampu meremoti pengandalian hidup manusia dan aktivitas sosial lainnya, kini percepatan dan pertumbuhan ekonomi menjadi skala prioritas pemerintah untuk mengembalikan paket kebijakan ekonomi nasional. Paket kebijakan itu salah satunya adalah program Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan program Exit Strategy berupa pembukaan ekonomi secara bertahap menuju tatanan baru.

Bonus Demografi dan Tantangan Indonesia Menuju Satu Abad

Tahun 2030-2040 Indonesia akan masuk di dalam fase pertumbuhan ekonomi di usia produktif yang kita tandai sebagai Bonus Demografi. Tidak bisa di pungkiri hal itu menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi Bangsa Indonesia dalam mempersiapkan sejumlah format konektivitas aksi dalam menghadapi peningkatan dan percepatan pertumbuhan pembangunan ekonomi tersebut. Indonesia yang akan mengalami gelombang masa bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif kisaran (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia yang tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan terus memasifkan skema dalam pemanfaatan peluang ekonomi global dalam momentum Bonus Demografi, adapun langkah-langkah strategis yang terus di gaungkan Pemerintah yakni peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) serta keterlibatan semua elemen masyarakat baik dalam mentransformasikan secara gerakan politik, ekonomi, dan sosial.

 Penting kiranya Bonus Demografi ini menjadi tantangan serius bagi Bangsa Indonesia, keoptimisme harus menjadi satu-satunya jiwa kepribadian Bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh Bangsa lain dalam menghadapi arus gelombang baru ekonomi. Mengenal penduduk usia produktif ini diprediksi akan mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan sebesar 297 juta jiwa, kembali mendiskripsikan bahwa ½ dari jumlah penduduk tersebut adalah di dominasi oleh generasi muda.

Saat ini Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi di berbagai sektor dalam menghadapi dampak atas peristiwa Covid-19. Bencana Non-alam ini hampir meruntuhkan energi kehidupan rakyat Indonesia secara merata tidak memandang kelas pekerja. Setelah lamanya 3 bulan harus di penjara di dalam rumah, di larang bekerja dan beraktivitas, dan di anjurkan Work From Home (WFH).

Stimulus ekonomi terus di genjarkan dalam membangun kembali kekuatan dan kebangkitan ekonomi rakyat lewat Program Kartu Pra Kerja untuk 5,6 juta peserta dengan total anggaran Rp 20 triliun dengan total batuan sebesar Rp 3,55 juta, kemudian ada Bantuan Sosial Tunai (BST) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Bantuan Sosial Tunai (BST) adalah bantuan yang bersumber dari Kementrian Sosial Republik Indonesia yang akan diberikan kepada masyarakat berdasarkan pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Adapun masyarakat calon penerima BST maupun BLT akan menerima bantuan uang tunai sebesar Rp 600.000,00 per kepala keluarga setiap bulannya selama tiga bulan. Sehingga total bantuan yang diterima per keluarga adalah Rp 1.800.000,00.

Disamping itu Presiden Joko Widodo menggelontorkan anggaran dalam mengatasi Covid-19 melalui APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun. Besaran anggaran tersebut ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Stabilitas Perekonomian di masa pandemi corona. Total anggaran tersebut salah satunya akan dialokasikan untuk kebutuhan belanja di sektor kesehatan sebesar Rp 75 triliun.

Selain itu, dari total anggaran Rp 405,1 triliun tadi, sebesar Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR) Sisanya, Rp 110 trilliun, akan dialokasikan untuk perlindungan sosial dan 150 triliun untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan dan pembiayaan dunia usaha khususnya terutama UMKM.

Maka melayani generasi menjadi instrumen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan Indonesia yang kita cita-citakan bersama. Anak - anak muda adalah satu aset saat ini, kini dan mendatang. Transformasi ide dan gagasan untuk kemajuan bangsa merupakan salah satu kunci utama dalam mendorong siklus perubahan pembangunan dan kebaikan untuk Indonesia yang akan datang khususnya dalam menyambut Bonus Demografi di tahun 2030-2040.

Monday, May 11, 2020

Ada Apa Dengan Toga?





Daripada sibuk urusi pandemi Covid-19 yang penuh drama ini, saya akan mencoba menulis tentang soal krusial mahasiswa yaitu wisuda. Wisuda merupakan perhelatan akbar dan akhir dari seluruh proses perkuliahan dengan gelar sarjana. Entah apapun jumlah huruf (s) dibelakangnya.

Kemudian peserta dikenakan seragam seperti jubah kaum agamawan samawi dan tak lupa topi hitam dengan ukuran 3 cm serta seutas tali ukuran jari kurang lebih ukuran jari telunjuk bahkan lebih.Topi yang berwarna hitam ukuran kepala koki (juru masak) tersebut namanya "Toga" sebagai simbol kemenangan atas drama intelektual selama bertahun- tahun.

Namun berakhirnya soal toga ini bukan berarti mengahkiri perjuangan tapi menandai proses per-uang-an alias mencari pekerjaan. Banyak yang gagal menuju babak akhir perkuliahan penuh drama ini ,adapula yang jatuh bangun akibat masalah pribadi entah biaya atau nikah muda, hamil muda dan lain-lain.

Sorotan utama kali ini adalah ekonomi dan budaya, jika menurut beberapa orang bangga dengan gelarnya setelah selesai kuliah bagi saya dan beberapa orang hal ini sebaliknya.

Sederhana saya menjelaskan agar bahasanya mudah dipahami, dalam urusan kuliah dari kacamata ekonomi : Sesungguhnya kita telah menikmati jajanan komersialisasi (bisnis) pendidikan. Lalu bagaimana mungkin ini bisa terjadi, bila mengingat tentang sila ke 5  "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" atau wacana pendidikan gratis para politisi dan pemerintah sungguh membuat hati galau tak karuan.


Tapi tidak hanya itu biaya yang dikeluarkan selama study amat banyak meski dihitung berdasarkan kualitas kampus anggarannya bisa dipakai beli kendaraan, buka usaha atau membeli sebidang tanah. Anekdot lucu yang diterima adalah kampus tempat mencetak pasar tenaga kerja sekaligus bisnis yang menguntungkan.Tidak hanya itu ribuan orang menjadi korban gelarnya sendiri, karena menikmati sensasi "banting setir" yakni situasi ekonomi memaksa bekerja tak sesuai jurusan seperti: dari yang jurusan ekonomi menjadi sekuriti/satpam atau jurusan mesin menjadi perangkat desa.

Nilai jual dari upah tak sesuai biaya waktu kuliah atau setidaknya mengikuti  standar UMR  yang disahkan pemerintah. Selain itu pandangan budaya mendukung angka pengangguran, jelas sekali bagaimana tidak soal sarjana adalah soal harga diri keluarga karena sanksi sosial. Dalam artian orang tua akan dianggap mampu bila menyekolahkan anaknya hingga sarjana tanpa peduli dia kerja apa.Belum lagi ditopang oleh kemelut nepotisme yang menjadi lahan subur mencari pekerjaan tanpa peduli basic struktur jurusan yang penting satu darah dan marga.

Hal ini bisa diperhatikan apabila foto toga dipajang didinding rumah dan dijumpai orang yang bertamu akan menuai pujian serta rasa bangga dan hal lain bisa dilihat dipostingan sosial media (ig,w.a,fb) dibawah kolom komentar serentak kita makan puji tanpa tahu arah selanjutnya.


Kontributor: Penulis :  Dion Rasu
Loading...