Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Saturday, August 29, 2020

3 Tips Penting Untuk Menulis Artikel

3 Tips Penting Untuk Menulis Artikel



Cara dan Panduan Mudah Menulis Artikel Bagus (Lengkap)

Cara dan Panduan Mudah Menulis Artikel Bagus (Lengkap)

Berikut merupakan panduan menulis artikel agar kawan kawan dapat lebih mudah menulis artikel.
Mari simak video berikut.

Tuesday, June 30, 2020

Menulis Itu Mudah, Asal Banyak Membaca


Menulis adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Karena segala macam unek-unek di otak bisa teraktualisasikan pada sebentuk tulisan yang menarik. Terkadang ini juga menjadi penyebab pikiran lebih tenang. 

Ilustrasi di atas tidak salah sekalipun tidak 100% benar. Karena faktanya masih banyak orang yang merasa kalau menulis adalah aktivitas yang sangat membosankan. Bahkan tidak jarang menulis melahirkan rasa marah dan jemu. 

Bagi kalangan tertentu ini menjadi fakta yang tidak bisa dibantah. Terutama bagi mereka yang pas di tengah menulis malah kehabisan bahan. Akibatnya komputer ditinggalkan atau kertas disobek lalu dibuang ke tempat sampah. 

Menulis Itu Butuh Bahan Tulisan

Menulis membutuhkan bahan tulisan. Namun tidak perlu melakukan riset kalau hanya untuk menulis, karena kalimat yang tertanam di otak juga bisa dijadikan sebagai bahan menulis. Artinya apapun teknik pengambilan bahan, aktivitas menulis tetap membutuhkannya. 

Apa yang akan dituliskan ke kertas atau diketik ke komputer jika tidak ada bahan yang akan ditulis? Maka dari itu, teknik sederhana untuk menulis adalah menuliskan kembali kalimat-kalimat paradigmatik yang muncul di otak. 

Pertanyaan sederhananya adalah bagaimana cara merangkai informasi di dalam otak?

Membaca Itu Syarat Menulis, Maka Membacalah

Jika ingin menulis pastikan sudah membaca terlebih dahulu. Dijamin, sekali membaca, apapun buku yang dibaca pasti menulis jauh lebih mudah karena sudah ada kalimat paradigmatik di dalam benak. 

Fase berikutnya adalah tergantung penulis apakah akan menuangkan bahan tersebut ke dalam tulisan atau tidak. Ini berhubungan dengan kebiasaan sekaligus tanggapan terhadap pentingnya menulis, sekalipun mood dan mental juga memengaruhinya. 

Ada adagium “penulis yang baik adalah pembaca yang baik”. Karena sejatinya memang tidak mungkin bisa menghasilkan tulisan yang bagus jika si penulis tidak rajin membaca. Yang ada isi tulisan monoton yang berefek pada malasnya pembaca untuk membaca. 

Membaca Itu Indah, Maka Tuliskan Keindahannya

Membaca adalah satu aktivitas yang sangat indah. Karena sekali membaca satu paragraf saja dari sebuah tulisan, akan muncul ribuan informasi yang bisa diambil lalu disimpan di dalam otak. 

Selanjutnya silakan keluarkan kembali informasi tersebut ke dalam bentuk tulisan. Pastikan sebelumnya buku ditutup terlebih dahulu supaya ada retorika khas yang muncul di dalam tulisan yang sedang dituliskan. 

Oh iya, membaca juga bisa dijadikan sebagai sarana pembuka wawasan. Artinya ada keterkaitan dialektika di dalam otak yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan jika di tengah-tengah aktivitas, kesulitan untuk menemukan bahan sebagai pelanjut naskah. 

Ini pula yang menjadi alasan mengapa tidak ada pembatasan judul jika sudah dihubungkan dengan aktivitas membaca. Artinya silakan membaca semua genre bacaan karena yang terpenting bukan isinya melainkan keterbukaan cakrawala berpikir yang dihasilkan. 

Menulis dan Membacalah, Karena Hidup Wajib Bermakna

Pastinya semua orang di dunia ini ingin bermakna pada orang lain. Maka dari itu pastikan sebelumnya harus bermakna untuk diri sendiri. Salah satunya dengan tidak membiarkan logika dan pengalaman diri hilang begitu saja.
Maka dari itu tuangkan segala bentuk temuan ke dalam bentuk tulisan. Hidangkan informasinya untuk diri sendiri kalau itu murni pemikiran dan pengalaman diri yang patut dituliskan. Setelah itu kirimkan hasilnya sebagai pesan paradigmatik kepada orang lain. 

Terakhir, kembali kalimat motivasi dihaturkan “Membaca Itu Indah, Maka Tuliskan Keindahannya”. Mari menjadi penulis hebat bukan untuk orang lain, minimal sebagai penghargaan untuk diri sendiri sebagai insan yang “hidup” dalam arti yang sebenarnya. 


Kontributor: (Ags)

Saturday, May 30, 2020

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Menulis


Kurang lebih dua bulan sudah secara resmi pemerintah mengeluarkan kebijakan Physical Distancing sebagai upaya memutus Pendemi Covid-19. Ya, sebuah virus yang konon katanya berasal dari salah satu hewan liar, Kelelawar.

Bencana Internasional ini turut membawa pengaruh diberbagai sektor, baik itu pendidikan, ekonomi dan sosial.

Dalam kesempatan ini penulis akan menyoroti dari segi sosial, yang mana Physical Distancing atau pembatasan jarak sosial maupun fisik dalam berinteraksi. Misal pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Kebijakan #dirumahaja, dll.

Hal ini tentu menciptakan situasi baru yang semula beraktivitas, bekerja, kuliah, sekolah bahkan travelling dengan bebas, kini terhalangi pendemi. Bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Masa perubahan derastis tersebut  berdampak terhadap psikologis seseorang, perasaan “suntuk” dan “terkurung”. Persoalan ini dapat diatasi dengan giat-giat produktif salah satunya menulis. Ya, menulis adalah sebuah petualangan keabadian!. Mari kita ulas secara seksama.




Apa itu menulis?

Secara praktek menulis merupakan suatu kegiatan mencurahkan ide, pemikiran, pendapat, pengalaman bahkan kritikan dalam sebuah kertas maupun media daring baik itu sebuah opini/artikel, puisi, kajian bahkan sebuah risalah. Kegiatan menulis adalah wahana bermain isi kepala atas apa yang dilihat dan didengar atas sesuatu yang terjadi sekarang lalu bergulat dalam ruang imajinasi menciptakan pendapat yang ideal menurut rasio (akal sehat) diri sendiri.

Seasli-aslinya penulis ialah yang mengutarakan pendapat tanpa harus meng-copy tulisan orang lain. Meski terkadang perspektif atau pernyataan dari orang lain diperlukan dalam sebuah tulisan hanya bersifat pembanding bukan mengkooptasi. Menulis juga bisa menjadi sebuah perenungan akan diri sendiri, berbicara dengan diri sendiri atas situasi kedepan yang diharapkan.

Menjadi seorang penulis tentu memiliki sebuah prinsip “Kenali diri sendiri, fenomena depan mata, olah isi kepala“. Karena energy dahsyat seorang manusia adalah kemampuan berpikir bebas. Atas berpikir bebas tersebut dapat menawarkan sebuah pengetahuan baru melalui analisa kepada khalayak ramai.


Lalu apa orientasi menulis?

Orientasi menulis adalah mencatat keabadian. Dapat kita bayangkan menulis pada hari ini, tulisan tersebut masih dapat terkenang hingga sepuluh, dua puluh tahun kedepan. Artinya ada sebuah cerita yang akan diceritakan kepada anak cucu kita, atas pengalaman dan perjuangan yang telah dilalui. Tidak ada kata terlambat menulis, hanya perkara waktu. 


Apa yang harus dimiliki seorang Penulis?

Kembali kepada pembahasan sebelumnya bahwa menulis itu petualangan keabadian. Orientasi atau motivasi tersebutlah modal dasar seorang penulis. Menjadi seorang penulis bukanlah sulit tetapi persoalan kesabaran. 


Rasa ingin tau yang tinggi

Hal ini berpengaruh dalam memulai perjalanan menjadi seorang penulis, pasalnya dari rasa tersebutlah muncul sebuh pengetahuan baru. Atas sebuah perjalanan atau kondisi yang dapat dilihat secara kasat mata menjadi pemicu muncul pertanyaan-pertanyaan besar dalam kepala.

Selalu mendahulukan dari pertanyaan “bagaimana”. Kemudian untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” atas kondisi tertentu yang kita lihat tersebut, muncul sebuah hasrat mencari tau baik dari buku, internet, jurnal dsb. Setelahnya, secara otomatis jaringan-jaringan otak kita akan bekerja dengan sendirinya mengalisa dan berdialektika sehingga menciptakan pola; sebelum terjadi, setelah terjadi dan jawaban/prediksi yang akan terjadi kedepan. Pola tersebutlah menjadi kerangka berpikir sebuah tulisan.


Out of the box

Keinginan keluar dari kotak dapat diartikan terbuka melihat hal baru atau open minded. Salah satu prinsip ini berpengaruh besar terhadap hal apa yang akan kita angkat dalam sebuah tulisan. Pikiran yang terbuka dengan dunia luar dapat menambah wawasan serta pendewasan diri.

Banyak persoalan-persoalan diluar sana yang harus kita gali, yang harus kita ulas dan yang harus  kita temukan jawabannya. Melalui sebuah tulisan kita dapat menawarkan ide dan solusi atas tantangan zaman kedepan, yang dapat menjadi sebuah refleksi kepada khalayak ramai. Artinya, proses penggalian pengetahuan baru tersebut dapat berkelanjutan jika dibaca oleh khalayak ramai.


Keluar dari zona nyaman dan berdiskusi

Menulis adalah memberanikan diri masuk dalam zona tidak nyaman. Contoh sederhana saja, untuk menulis sebuah artikel memakan waktu 2-3 jam mencurahkan isi kepala. Proses berpikir panjang ini tentu menguras tenaga. Pertanyaannya apa orientasi kita dalam menulis? Jawaban inilah yang akan membuat kita berani keluar dari zona nyaman. Kemudian giat dalam ruang-ruang diskursus memiliki pengaruh dalam perkembangan pengetahuan kita. Jangan mau menjadi “katak dalam tempurung”, menutup diri dengan orang-orang baru.

Kemampuan menulis kita akan berkembang seiring berjalannya; perjalanan hidup, dunia dan orang baru, kedewasaan, dan lingkungan sekeliling kita. lingkungan yang mengutamakan ruang-ruang diskusi selaras dengan rasa ingin menulis kita.


Tahapan Menulis

Untuk menciptakan sebuah tulisan yang menarik membutuhkan beberapa tahapan. Dalam hal ini saya akan berbagai fase-fasenya. Sebuah tulisan yang baik tentu memiliki dampak baik pula terhadap pembacanya, berorientasi kepada perubahan-perubahan atas fenomena yang terjadi. Tahapan menulis dianalogikan seperti anak tangga yang harus dilalui secara berjenjang dan terstruktur yakni:

- Menemukan topik tulisan yang akan diangkat.
- Membuat outline berupa kerangka tulisan, dari kerangka tersebut berfungsi menciptakan turunan-turunan yang memunculkan kalimat per kalimat.
- Pengumpulan data, teori dan bahan-bahan argumentasi yang logis.

Menulis dan mengembangkan analisa serta pemikiran diri sendiri.
- Penyuntingan, pada tahap ini penulis membaca kembali memperbaiki tulisan yang telah rampung lalu memperbaiki penulisan yang dianggap perlu diperbaiki.
- Publikasi 
Tahap publikasi merupakan tahap akhir yakni menerbitkan tulisan tersebut dalam sebuah media misal; buku terbitan, Koran, majalah, media online, dan sosial media
- Jika gagal, evaluasi lalu coba lagi, coba lagi dan coba lagi.

Tidak ada kata terlambat memulai untuk menulis, ini hanya persoalan waktu dan keberanian. Menorehkan sebuah pemikiran dalam sebuah media adalah menciptakan sebuah sejarah.

Sejarah hidup, sejarah pernah menyampaikan pikiran yang mana sepuluh dua puluh tahun kedepan dapat dinikmati kembali oleh anak cucu kita. Seperti salah satu tokoh sastrawan mengatakan “Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian“ Pramoedya Ananta Toer.



Kontributor: Reinhadt P Antonio, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi, Salah Satu Penulis Buku Antologi Indonesia Bersuara, dan Mentor di media jejaring Intipkuliah.com
Loading...